Jumat, 18 Juli 2014

Jangan Khianati Amanah




Suatu hari.dalam perjalanan pulang dari sebuah pertempuran. Rosulullah SWT bersama pasukan beristirahat di suatu tempat.Tidak ada tempat untuk berlindung dari sengatan terik matahari.Hamparan padang pasir membuat panasnya kian menjadi-jadi. para sahabat tidak tahan melihat Rasul mereka terbakar matahari. Beberapa sahabt berinisiatif memayungi Rasululah. Tapi. Lagi-lagi tak ada yang bisa mereka gunakan untuk payung. Akhirnya mereka mengambil selembar kulit kambing yang sudah di keringkan. Kulit kambing itu sendiri merupakan ghanimah {rampasan perang} yang belum di bagikan, Karenanya, Tidak ada seorangpun yang berhak menggunakannya. Melihat tindakan baik para sahabatnya, Rosulullah justru tidak mau di payungi. Beliau lantas berkata, "Relakan kalian jika nabi kalian bernaung di bawah api
neraka?"
Maksud dari perkataan Rosullullah tersebut,beliau tidakrela di payungi dengan kulit kambing yang statusnya masih rampasan perang yang belum di bagi. Sehingga belum jelas pemiliknya. Dalam ajaran islam, mengambil atau menggunakan harta rampasan perang merupakan tindakan dosa {ghulul}. ketakutan Rosulullah SAW merupakan cerminan dari penghayatannya atas firman Allah,
''Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu. maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu,Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan, dengan pembalasan yang setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. "{QS.Ali Imran;161}
Kisah Rasulullah di atas menegaskan betapa pentingnya amanat. Amanat tidak saja berkaitan dengan hak-hak orang lain, Tapi juga dengan ancaman siksa diakhirat bagi siapa yang melanggarnya.Amanah memiliki pengertian yang amat luas di dalam islam. tidak sekedar berkaitan dengan soal titip-menitip,atau pinjam-meminjam. tapi lebih dari itu, inti amanah adalah kesadaran akan segala kewajiban yang di bebankan di atas pundaknya. menunaikannya dengan keyakinan bahwa ia akan di minta pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT.
Menjadi bendahara harus amanah. jangan mengambil uang yang bukan haknya. menjadi guru harus amanah, jangan mengajarkan yang tidak benar kepada murid. menjadi karyawan harus amanah, jangan hanya menuntut hak tanpa menunaikan kewajiban. menjadi gubernur, Wali Kota,Bupati, Camat, Lurah,Mentri, Politisi,apa lagi menjadi Presiden. harus amanah jangan seenaknya menggunakan kekuasan untuk tujuan pribadi. dalam kisah di atas, kalau Rosullulah mau, maka ia bisa memerintahkan anak buahnya memayunginya. tapi itu tidak dilakukan.bahkan di payungipun menolak.
Bagaimana dengan para penguasa kita. pejabat kita, yang dengan seenaknya memakan uang rakyat? Berkolusi dengan para penguasa untuk membesarkan perut mereka? amanah yang mereka emban berkaitan dengan urusan ribuan, bahkan jutaan orang. maka para pengusaha dan pejabat yang tidak amanah tersebut dosanya bisa jadi lebih banyak. karena tidak hanya satu dua orang yang dizalimi,tapi ratusan ribu.
Islam mewajibkan kepada umatnya agar bersipat amanah, sebagai mana firman Allah SWT."Hai orang-orang yang beriman  janganlah kamu sekalian mengkhianati Allah dan Rosul Nya  dan jangan pula mengkhianati amanah -amanah yang di percayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui."{QS.Al-Anfal: 27} Amanah juga menjadi salah satu pilar keselamatan dan kemenangan bagi orang-orang, "Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah  {yang dipikulnya} dan janjinya." {QS.Al mukmin:8}
Rosulullah saw pun menegaskan pentingnya amanah dalam beberapa haditsnya, seperti di katakan Anas bin malik, tidaklah Rosulullah saw berkhutbah  melainkan berkata, "Tidak sempurna iman orang yang tidak menjaga amanah."{HR  Ahmad}. Dalam hadits lain rosulullah menyebut khianat   {tidak memegang teguh amanah} sebagai salah satu sifat orang munafik. {Muttafak  'alaihi}.sementara Maimun  bin Mahram berkata, "Terbunuh di jalan Allah merupakan penghapus segala dosa, selain dosa  {pelanggaran|} amanah."
Untuk dapat menjalankan amanah, ada beberapa hal yang harus di lakukan. Pertama, menempatkan orang pada tempat yang layak untuknya. Adalah khianat jika seseorang memberikan jabatan kepada orang yang tidak memiliki kapasitas untuk jabatan tersebut. Rosulullah bersabda,"Jika suatu urusan di serahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya."{HR. Bukhari} Abu dzar, pernah berkata kepada Rosulullah saw, "Wahai rosulullah tidakkah engkau mengangkatku sebagai pejabat?" Maka, Rosulullah saw  menepuk pundaknya seraya bersabda, "wahai abu Dzar, engkau orang yang lemah, sedangkan kepimpinan itu amanah. ia akan menyababkan kehinaan dan penyasalan di hari kiamat, kecuali bagi orang yang menerimanya dengan cara yang haq dan menjalankannya dengan haq pula."{HR.muslim}
Kemampuan ilmiah dan amaliah bukanlah jaminan keshalihan jiwa. Betapa banyak orang yang tutur kata dan prilakunya menjadi pujian orang, namun tidak memiliki kemampuan yang mendukung untuk menyukseskan tugas-tugas yang di embannya. Karenanya, ketika Nabi Yusuf as mencalonkan diri menjadi bendahara Mesir, beliau tidak hanya mengandalkan keshalihan dan ketakqwaan saja. sifat yang beliau ajukan kepada Raja Mesir, waktu itu adalah kemampuannya menjaga harta negara dan wawasannya yang luas dalam mengatur kekayaan negara.  Allah SWT melukiskan hal ini dalam firman-nya. Jadikanlah aku bendaharawan negeri {mesir}.sesungguhnya aku orang yang mampu menjaga dan berpengetahuan."{QS. yusuf 55}.
Kedua, bagi orang yang telah mendapatkan amanah, harus menjalankan dengan sebaik-baiknya. Atau dalam bahasa haditsnya Itqan dan Ihsan. Jangan justru sebaliknya, amanah yang diembannya malah menyengsarakan orang lain. Nabi Ibrahim As diuji Allah SWT karena menjalankan segala tugas dan kewajiban yang di berikan Allah kepadanya secara tuntas. "dan,ketika Allah menguji ibrahim dengan beberapa kalimat {perintah dan larangan}. ia mentaatinya dengan sempurna. " {QS Al-baqarah:124}.
Ketiga, bahwa semua yang kita miliki dalam hidup ini adalah titipan. jasad, akal, pancaindra, harta,anak, jabatan, dan lain sebagainya, adalah amanah titipan Allah. semuanya harus digunakan di jalan yang diridhai Allah ketika kenikmatan-kenikmatan itu hadir pada diri kita, kita harus menyadarinya bahwa itu adalah amanah dan titipan dari Allah SWT.
Selain titipan Allah,kita juga harus menjaga titipan orang lain. Dalam bentuk barang, pinjaman, penjanjiaan, atau kesepakatan-kesepakatan lainnya. Dalam situasi genting pada malam hijrah, rosulullah masih menyempatkan diri untuk berpesan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra agar mengembalikan barang-barang milik orang kafir Quraisy.
saat ini sifat amanah memang seperti "barang langka". Tapi bukan berarti  kita harus hanyut dalam pusaran orang-orang yang suka melanggar amanah. justru karena langkanya, orang yang memilikinya adalah orang yang luar  biasa.
Wallahu  a'lam bishawab.
Roni s

30 FADHILAH SHOLAT TARAWIH


Berikut ini fadilah- fadilah shalat tarawih, semoga bermanfaat dan bisa menambah kita menjadi semangat untuk beribadah.
1. Barang Siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam pertama ( 1 Ramadhan ), Allah Swt . akan mengampuni dosanya seperti bayi baru dilahirkan ibunya.
2. Barang siapa yang melaksanakan sholat tarawih pada malam ke 2, allah swt Akan mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
3. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke 3, Malaikat akan memanggil dari bawah Arsy dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu.
4. Barang siapa yang melaksanakan sholat tarawih pada malam ke 4 , maka pahalanya seperti pahala orang yang membaca kitab taurat,kitab jabur,kitab injil, dan Kitab Alqur’an
5. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 5, Allah akan memberikan pahala seperti orang yang sholat dimasjidil haram dan masjidil aqso
6. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke 6 , allah akan memberikan pahala seperti orang yang thowaf di baitul ma’mur dan Allah akan mengampuni dosanya.
7. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke 7, allah akan memberikan pertolongan seperti pertolongan allah kepada nabi musa A.S dari fir’aun dan Hamman.
8. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 8 , allah akan memberikan pahala seperti pahala yang telah Allah berikan kepada nabi Ibrahim As
9. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 9, Allah akan memberikan pahala seperti pahala ibadahnya Nabi Muhammad SAW
10. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 10, Allah akan memberikan rizki kebaikan dunia akhirat.
11. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 11, maka ketika ia keluar dari dunia seperti baru dilahirkan dari perut ibunya.
12. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 12, maka ia datang pada hari kiamat dan wajahnya seperti bulan purnama
13. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 13, maka ia akan datang pada hari kiamat diselamatkan dari setiap kejelekan .
14. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 14, malaikat akan datang dan mereka bersaksi bahwa dia shalat tarawih. Maka allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.
15. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 15, malaikat rohmat , Arsy, dan kursy akan membaca shalawat kepadanya.
16. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 16, Allah akan menulisnya bebas dari neraka dan masuk ke dalam surga .
17. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 17. Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala para nabi.
18. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 18, Malaikat akan memanggilnya : “Wahai Hamba Allah, sesungguhnya Allah Ridho pada engkau.
19. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 19, Allah akan mengangkat derajatnya dalam surga firdaus.
20. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 20, Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala para sahabat.
21. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 21, Allah akan membangun Rumah untuknya disurga yang terbuat dari cahaya.
22. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 22, ia akan datang pada hari kiamat dan diselamatkan dari berbagai kesusahan.
23. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 23, Allah akan membangun sebuah kota disurga untuknya.
24. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 24, Allah akan mengabulkan dari 24 Doanya.
25. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 25, Allah akan mengangkat baginya dari siksa kubur.
26. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 26, Allahk akan mengangkat pahalanya selama 40 tahun.
27. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 27, ia akan berjalan di jembatan shirothol mustaqim bagai kilat yang menyambar.
28. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 28, Allah akan mengangkatnya 1000 (Seribu) derajat didalam surga.
29. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 29, Allah akan mengabulkan 1000 (Seribu) Hajatnya.
30. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 30, Allah berfirman, “Wahai Hambaku, makanlah dari buah buahan surga dan mandilah disungai salsabil dan minumlah dari telaga kautsar” kemudian Allah Berfirman : “ aku tuhanmu dan engkau hambaku.
Dikutip dari Kitab Durothun Nasihin
Karangan Ustman Bin Hasan Bin Ahmad Sukr al-khaubawae
Hak cipta hanya milik Allah Swt.

ANAK DAN TANGGUNG JAWAB


Seorang teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu hari dia menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti biasa, sebagai orang Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui zebra-cross. Saat itu memang tak ada mobil, sepi, juga tak ada polisi; kecuali seorang ibu dengan anaknya yang masih balita. Begitu ia sampai ke seberang jalan, terdengar teriakan si ibu dari seberang jalan yang baru saja ia tinggalkan. "Hei..hei... ke Sini!!". Kira-kira begitu teriakan ibu itu. Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan, lagi sebagai orang Indonesia, teman ini langsung kembali menyeberang. Pasti ada apa-apa dengan ibu ini, ia butuh pertolongan. Sesampainya di dekat ibu itu, ia dibentak, "Hai, kenapa kamu menyeberang bukan dari zebra-cross? Tahukah kamu, kelakuanmu itu sudah mengajari anak saya melanggar peraturan, kamu sudah menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar peraturan itu sesuatu yang biasa-biasa saja!"
Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia melanggar peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu itu yang mengaitkan pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang lebih mengejutkan. Begitu pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu itu, begitu pentingnya ibu itu menjaga memori dan kesadaran anaknya agar tetap terjaga dalam perbuatan baik. Bagaimana dengan kita?
Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang orang tua dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau menyekolahkan anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di sekolahnya dan dapat mengikuti test masuk SMP dengan mudah. "Mudah-mudahan anak saya bisa masuk pilihan pertamanya!" harap sang bapak.
Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram, lebih tepatnya penuh kekecewaan, "Anak saya gagal, semula nilainya 80, saya sudah mengeceknya lewat SMS. Eh...kemarin nilainya jadi 67. Saya protes, dan guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu, mereka menawarkan jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!" Tetangga saya menolak untuk membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah swasta saja. "Saya tak mau anak saya belajar di sekolah pembohong!"

Menurut sahibul gosip, melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena ada beberapa anak lain yang nilainya rendah dikatrol dengan cara membayar sekian rupiah. Tentu saja yang membayarnya adalah orang tua, dan yang menerimanya adalah guru yang terhormat. Marilah kita bandingkan sikap dan tanggung jawab kita pada anak-anak. Keputusan untuk membayar sejumlah rupiah demi sang anak tentu didasari pilihan untuk memberikan kasih sayang yang terbaik buat sang anak, namun pada saat yang bersamaan kita telah menanamkan racun pada kesadaran anak-anak itu. Racun itu adalah,
1) uang bisa menyelesaikan segalanya;
2) tak usah berprestasi, biasa-biasa saja, nanti juga uang bisa menambalnya.
Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa sadar kita melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan itu di depan anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah telah mencatat di relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup sepanjang hayat. Terlebih lagi, peristiwa ini dialami sang anak di lembaga pendidikan yang semua aspeknya merupakan nilai mulia yang harus ditiru dan diteladani.

Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini datang dari salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke suatu tempat. Karena acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan untuk membawa mobil itu bagi keperluannya sendiri. "Syaratnya, jam sekian kamu harus berada di sini, menjemput bapak!" ujar sang ayah. Pada jam yang ditentukan sang anak belum kembali, menit demi menit sang anak belum juga kembali. Sang ayah menunggu sampai beberapa jam. Lalu, sang anak datang dan mengajukan permohonan maafnya.
"Baiklah kalau begitu," ujar sang ayah, "naikilah mobil itu, bawalah pulang. Saya akan jalan kaki ke rumah!" Sang anak protes dan merasa bersalah. Namun sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil berpesan, "Mengingkari janji adalah kesalahan terbesar dalam hidup ini, kamu sudah melakukannya padaku. Semua itu pastilah bukan kesalahanmu, itu semua karena saya salah mengajarimu, nak. Karena itu biarlah ayah menghukum diri, menghukum kesalahan pendidikanku padamu!" Sejak saat itu, sang anak tak pernah lagi mengingkari janji.
Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita. Benarkah kita serius merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai amanah (titipan) dari Allah? Betapa mulia kata-kata "amanah (titipan) Allah". Pada istilah ini terlihat relasi antara Allah dan kita yang sedemikian akrab, Allah percaya pada kita karena itu Dia menitipkan sesuatu yang berharga. Lazimnya titipan, ia harus tetap seperti nilai awalnya. Nilai awal sang anak adalah fitrah, dan harus tetap fitrah.
Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat bangga pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk "dicetak" agar "membuat bangga" orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih yang begitu rapuh, butuh tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai takaran. Kecenderungan benih adalah terus mencari cahaya, tetapi putik kecil bisa saja ditipu diberi cahaya palsu dan memercayainya seumur hidup.
Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah tak pernah menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi. Benih padi yang ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita menerima benih fithrah "anak kita" dan mengembangkannya menjadi fithrah yang lebih baik?

Sebuah hadis menyatakan bahwa setelah kematian menerpa kita, tak ada yang bisa menolong dari siksa kubur kecuali doa dari kesalehan sang anak. Tentu saja, maksud hadis ini bila sang anak, "titipan Allah" itu, telah kita jaga dan tumbuh tetap berada dalam fitrahnya, maka kita akan mendapatkan hadiah dari Allah karena telah menjaga amanahnya dengan baik.
Pada hari ini, ada baiknya kita menyempatkan diri untuk mengelus dan mengecup lembut kening mereka. Kita layak meminta maaf karena selama ini telah memberikan ruang hidup yang sumpek, penuh keluhan dan pertengkaran, serta tidak memberikan jaminan-moral. Kita pun layak memohon ampunan pada Allah karena titipan-Nya belum dirawat secara baik.
Tersenyumlah, anak-anak menunggu ketulusan kita!
Sumber : Nursyamsiah
artikel dari milis tetangga, mungkin bermanfaat bagi kita semua. Wassalam.