Dinukil dari buku : 114 Tips Murobbi Sukses
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. 21 : 107).
Misi keberadaan kita di dunia ini tiada lain kecuali menjadi rahmat bagi
semesta alam. Rahmat dalam pengertian menebarkan kasih sayang dan
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Misi tersebut
tak bisa tidak mengharuskan kita hidup dalam jalan dakwah. Mengapa?
Sebab hanya dakwah yang membuat seorang muslim konsisten mengajak orang
lain ke arah kebaikan dan kasih sayang. Sedang jalan selain dakwah
adalah jalan yang penuh ketidakpastian dan keraguan untuk merealisasikan
misi keberadaan manusia muslim tersebut. Jalan yang seringkali
menggelincirkan seseorang kepada sikap egois dan hanya mementingkan diri
sendiri.
Itulah sebabnya Allah mewajibkan setiap muslim berdakwah, agar mantap
merealisasikan misi keberadaannya di muka bumi. Kewajiban tersebut
bahkan sudah kita sandang sejak akil baligh. “Hai anakku, dirikanlah
sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah
(mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah)” (QS. 31 : 18).
Dakwah adalah jalan orang-orang yang mulia
sepanjang masa. Saking mulianya jalan tersebut, Allah SWT sampai
menyebutnya sebagai jalan “yang terbaik”. “Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal
shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah
diri?” (QS. 41 : 33).
Karena itu, amat ironis jika ada seorang muslim yang secara sadar meninggalkan jalan dakwah.
Untuk berdakwah, kita perlu memahami tahapan dakwah. Secara umum, ada
dua tahapan dakwah, yakni dakwah umum (‘ammah) dan dakwah khusus
(khossoh).
Dakwah ‘ammah adalah dakwah yang ditujukan kepada masyarakat umum tanpa
adanya hubungan yang intensif antara da’i (orang yang berdakwah) dengan
mad’u (orang yang didakwahi). Sebagian besar fenomena dakwah yang ada di
masjid-masjid dan media massa adalah dakwah ‘ammah. Follow up
(kelanjutan) dari dakwah ‘ammah adalah dakwah khossoh. Yakni dakwah
kepada orang-orang terbatas yang ingin bersungguhsungguh mengamalkan
Islam. Hubungan antara da’i dan mad’u berlangsung intensif pada dakwah
khossoh. Umumnya, mad’u pada dakwah tahapan khusus ini dikumpulkan dalam
kelompok-kelompok kecil berjumlah 3-12 orang yang disebut dengan
halaqah (lingkaran). Di beberapa kalangan halaqah juga disebut dengan
pengajian kelompok, mentoring, ta’lim, usroh, liqo’, dan lain-lain. Di
dalam halaqah inilah murobbi (pembina) berada.
Pengertian murobbi Murobbi adalah seorang da’i yang
membina mad’u dalam halaqah. Ia bertindak sebagai qiyadah (pemimpin),
ustadz (guru), walid (orang tua), dan shohabah (sahabat) bagi mad’unya.
Peran yang multifungi itu menyebabkan seorang murobbi perlu memiliki
berbagai keterampilan, antara lain keterampilan memimpin, mengajar,
membimbing, dan bergaul. Biasanya, keterampilan tersebut akan berkembang
sesuai dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman seseorang sebagai
murobbi.
Peran murobbi berbeda dengan peran ustadz, muballigh atau penceramah
pada tataran dakwah ‘ammah. Jika peran muballigh titik tekannya pada
penyampaian materimateri Islam secara menarik dan menyentuh hati, maka
murobbi memiliki peran yang lebih kompleks daripada muballigh. Murobbi
perlu melakukan hubungan yang intensif dengan mad’unya. Ia perlu
mengenal “luar dalam” mad’unya melalui hubungan yang dekat dan akrab. Ia
juga memiliki tanggung jawab untuk membantu permasalahan mad’unya
sekaligus bertindak sebagai pembina mental, spritual, dan (bahkan)
jasmani mad’unya. Peran ini relatif tidak ada pada diri seorang
muballigh. Karena itulah, mencetak murobbi sukses lebih sulit daripada
mencetak muballigh sukses.
Dalam skala makro, keberadaan murobbi sangat penting bagi
keberlangsungan perjuangan Islam. Dari tangan murobbilah lahir
kader-kader dakwah yang tangguh dan handal memperjuangkan Islam. Jika
dari tangan muballigh lahir orang-orang yang “melek’ terhadap pentingnya
Islam dalam kehidupan, maka murobbi melajutkan kondisi “melek” tersebut
menjadi kondisi terlibat dan terikat dalam perjuangan Islam. Urgensi
murobbi dalam perjuangan Islam bukan hanya retorika belaka, tapi sudah
dibuktikan dalam sejarah panjang umat Islam. Dimulai oleh Nabi Muhammad
saw sendiri ketika beliau menjadi murobbi bagi para sahabatnya.
Kemudian dilanjutkan dengan para ulama salaf (terdahulu) dan khalaf
(terbelakang), sampai akhirnya dipraktekkan oleh berbagai harakah
(gerakan) Islam di seluruh belahan dunia hingga saat ini. Tongkat
esatafeta perjuangan Islam tersebut dilakukan oleh para murobbi yang
sukses membina kaderkader dakwah yang tangguh.
Pada intinya, umat Islam tak mungkin mencapai cita-citanya jika dari
tubuh umat Islam itu sendiri belum lahir sebanyak-banyaknya murobbi
handal yang ikhlas mengajak umat untuk memperjuangkan Islam.
Keutamaan murobbi Mengingat begitu pentingnya peran murobbi dalam
keberlangsungan eksistensi umat dan dakwah, sudah seharusnya kita
memiliki keseriusan untuk mencetak murobbi-murobbi sukses. Namun
ternyata mencetak murobbi sukses bukanlah hal yang mudah. Ada berbagai
kendala yang menghadang.
Kendala tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga bagian.
1. Kendala kemauan Yakni kendala berupa belum
munculnya kesadaran dan motivasi yang tinggi dari sebagian kita untuk
menjadi murobbi. Mungkin disebabkan belum tahu pentingnya murobbi,
belum percaya diri untuk menjadi murobbi, atau karena tidak menganggap
prestisius peran murobbi dalam masyarakat.
2. Kendala kemampuan Yakni kendala berupa minimnya pengetahuan dan pengalaman menjadi murobbi.
Memang, menjadi murobbi membutuhkan berbagai kemampuan yang perlu terus
ditingkatkan. Beberapa kemampuan yang perlu dimiliki, misalnya
pengetahuan agama, dakwah, pendidikan, organisasi, manajemen, psikologi,
dan lain-lain. Kemampuan ini masih terbatas dimiliki oleh kebanyakan
umat.
3. Kendala kesempatan Yakni kendala ketiadaan waktu
dan kesempatan untuk menjadi murobbi. Kehidupan dunia yang penuh godaan
materi ini membuat orang terlena untuk mengejarnya, sehingga tak punya
waktu untuk memikirkan hal-hal yang strategis. Termasuk di dalamnya tak
punya waktu untuk serius menjadi murobbi. Padahal keberlangsungan
eksistensi umat sangat tergantung pada keberadaan murobbi-murobbi
handal.
Mestinya, berbagai kendala tersebut dapat diatasi dengan kekuatan iman
dan taqwa kepada Allah swt. Tanpa kekuatan iman dan taqwa, obsesi
menjadi murobbi sukses menjadi musykil dilakukan.
Selain dengan iman dan taqwa, untuk mengatasi berbagai kendala itu kita
juga perlu menyadari beberapa keutamaan menjadi murobbi, diantaranya :
1. Melaksanakan kewajiban syar’i. Menuntut ilmu
wajib hukumnya dalam Islam. Apalagi jika yang dituntut itu ilmu Islam.
Cara yang paling efektif menuntut ilmu Islam adalah dengan halaqah,
seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Menurut kaidah fiqih, jika
pelaksanaan kewajiban membutuhkan sarana, maka sarana itu menjadi wajib
untuk diadakan. Logikanya, jika menuntut ilmu Islam itu wajib dan cara
yang paling efektif menuntut ilmu Islam adalah halaqah, maka halaqah
menjadi wajib untuk diadakan.
Halaqah tidak akan berjalan efektif tanpa adanya dua pihak, pembina
(murobbi) dan peserta (mad’u). Karena itu, menjadi murobbi dan mad’u
menjadi wajib juga.
Allah berfirman : “..Hendaklah kamu menjadi orang-orang robbani, karena
kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap
mempelajarinya” (QS. 3 :79).
Pada ayat tersebut, Allah menyuruh setiap muslim menjadi murobbi
(mengajarkan Al Kitab) dan menjadi mad’u (mempelajari Al Kitab). Tidak
boleh hanya mau menjadi mad’u saja, tapi tidak mau menjadi murobbi. Jadi
kesimpulannya, setiap muslim wajib mengupayakan dirinya untuk menjadi
murobbi.
2. Menjalankan sunnah rasul. Rasulullah saw telah
membina sahabat-sahabatnya dalam majelis zikir atau halaqah. Rasulullah
membina halaqah selama hidupnya, baik ketika di Mekah (contohnya di
Darul Arqom) maupun di Madinah (contohnya majelis ta’lim di Masjid
Nabawi). Jadi, menjadi murobbi berarti melaksanakan sunnah rasul
(kebiasaan Rasulullah saw). “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan
nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu
yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu Al Kitab dan hikmah (Sunnah Rasul), serta
mengajarkan
kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. 2 : 151).
3. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Barangsiapa yang mengajarkan Islam kepada orang lain maka ia akan
mendapatkan pahala. Semakin efektif sarana pengajarannya, semakin
berlipat ganda pahala yang akan didapatkan. Halaqah adalah sarana yang
paling efektif untuk mengajar Islam. Karena itu, menjadi murobbi akan
mendapatkan pahala
yang berlipat ganda.
4. Mencetak pribadi-pribadi unggul Nabi Muhammad
saw adalah murobbi yang telah berhasil mencetak generasi terbaik
sepanjang masa. Oleh sebab itu, menjadi murobbi berarti turut membina
pribadi-pribadi unggul harapan umat dan bangsa. Sangat aneh jika seorang
muslim tidak mau menjadi murobbi padahal ia sebenarnya sedang melakukan
tugas yang besar dan penting bagi masa depan umat dan bangsa.
5. Belajar berbagai keterampilan Dengan membina,
seorang murobbi akan belajar tentang berbagai hal. Misalnya, ia akan
belajar tentang bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri,
komunikasi, bergaul, mengemukakan pendapat, mempengaruhi orang lain,
merencanakan sesuatu, menilai orang lain, mengatur waktu, mengkreasikan
sesuatu, mendengar pendapat orang lain, mempercayai orang lain, dan
lain sebagainya. Pembelajaran tersebut belum tentu didapatkan di sekolah
formal.
Padahal manfaatnya begitu besar, bukan hanya akan
meningkatkan kualitas pembinaan selanjutnya, tapi juga bermanfaat untuk
kesuksesan hidup seseorang.
6. Meningkatkan iman dan taqwa. Dengan menjadi
murobbi, seseorang akan dapat meningkatkan iman dan taqwanya kepada
Allah SWT. Secara psikologis, orang yang mengajarkan orang lain akan
merasa seperti menasehati dirinya sendiri. Ia akan berupaya meningkatkan
iman dan taqwanya kepada Allah seperti yang ia ajarkan kepada
orang lain. Dampaknya, hidupnya akan menjadi tenang karena dekat dengan Allah dan terhindar dari kemaksiatan.
7. Merasakan manisnya ukhuwah Untuk mencapai
sasaran-sasaran halaqah, murobbi dituntut mampu bekerjasama dengan
peserta halaqah. Kerjasama tersebut akan berbuah pada manisnya ukhuwah
Islamiyah di antara murobbi dan mad’u. Betapa banyak orang Islam yang
tidak dapat merasakan manisnya ukhuwah. Namun dengan menjadi murobbi,
seorang muslim akan berpeluang untuk merasakan manisnya ukhuwah.
Dengan mengetahui berbagai keutamaan murobbi tersebut, tak alasan lagi
bagi kita untuk mengelak menjadi murobbi. Kita harus berupaya sekuat
tenaga untuk menjadikan diri kita sebagai murobbi yang sukses membina
mad’u. Inilah pekerjaan besar yang masih banyak “lowongannya”. Inilah
tugas besar yang menanti kita untuk meresponnya.