Sabtu, 31 Desember 2016

waroeng kampung ilmu surabaya



Waroeng Kampoeng Ilmu

Tetesan hujan tidak menyurutkan langkah kaki anak anak bermain, meskipun hujan turun dengan derasnya, terkadang ada petir yang menggelegar, tidak membuat anak anak ini pada takut. Hal ini malah membuat anak anak semakin larut dalam permainan dengan sesama teman sepermainannya. Sedangkan di dekatnya banyak orang yang berteduh untuk menghindari hujan. Inilah salah satu pemandangan yang ada di salah satu kota di Indonesia, yaitu  
Surabaya. Surabaya selain terkenal dengan wisata kuliner yang sangat khas seperti lontong kupang, rujak cingur dan tahu campur, kota Surabaya juga memiliki wisata khusus yang terkenal di bidang pendidikan yaitu Kampung Ilmu.
Lokasi Kampung ilmu ada pusat kota Surabaya yaitu di jalan Semarang yang masuk ke dalam kecamatan Bubutan dan tidak jauh Stasiun Kereta Api Pasar Turi.Kampung Ilmu didirikan oleh peguyuban pedagang kaki lima (PKL) yang terdiri dari penjual buku-buku bekas di kawasan tersebut pada tanggal 09 April, 2008.
Pada masa itu Pemkot Surabaya sedang giat melakukan razia dan melakukan penggusuran pedagang kaki lima di banyak lokasi di kota Surabaya, termasuk dengan para PKL jl Semarang.Sebelumnya kawasan jl Semarang memang sudah terkenal sebagai pusat penjualan buku-buku bekas yang berjualan di sepanjang jalan jl Semarang sebelum akhirnya direlokasi ke lahan tidur milik dinas PU.
Sekarang, Waroeng Kampung Ilmu mempunyai banyak hal baru baru yang di hadirkan oleh dinas PU. Akan tetapi sayangnya banyak hal yang tidak terawat. Ini sungguh sangat disayangkan. Ibu Walikota Surabaya Tri Rismaharini sedang mencanangkan kota surabaya kota percontohan dalam gemar membaca, yaitu beliau banyak menempat perupustakaan di setiap taman taman, agar memudahkan para warga untuk membaca buku. Akan tetapi keadaan ini jauh berpaling dengan tempat penjualan buku murahnya, yang tidak terawat.


Padepokan Seni Budaya dan Kampoeng Ilmu
Kampoeng Ilmu,  bukan hanya sekedar tempat untuk jual beli buku. Di tempat ini juga terdapat Padepokan Seni Budaya.
Padepokan Seni Budaya ini berdiri 7 Oktober 2013, di bawah asuhan Wardani musban ali, seorang seniman asal surabaya yang bertempat tinggal di sekitar jalan semarang ini telah menampung para siswa yang ingin belajar sekitar 2235 orang, yang pada tanggal 22 November 2015, mendapatkan museum Rekor Dunia Indonesia dengan Tari Remong. Siswa siswanya pun banyak di sekolah sekolah yang ada di Surabaya, untuk biyaya tari pun Free, tidak di pungut biyaya apapun. 


Waroeng Kampung Ilmu tempat kumpul Komunitas
Waroeng kampung ilmu  di tengah tengahnya  juga terdapat Warkop ( Warung Kopi ), Warung Kopi ini. Para PKL di Kampoeng ilmu biasanya menyelenggarakan berbagai acara sosial kemasyarakatan seperti memperingati hari pendidikan nasional, hari anak nasional, advokasi kesehatan, kegiatan bakti sosial, diskusi dan bedah buku, hingga Hermawan Kartajaya yang merupakan ahli marketing terkenal pernah mengadakan seminar gratis di Kampoeng Ilmu.
Hingga sekarang tempat ini biasanya dijadikan tempat untuk bersantai, mahasiswa berkumpul, diskusi, dan tempat berkumpulnya berbagai komunitas seperti Surabaya Gemstone Community dan juga Hacking pendaki Gunung.
Diharapkan Kampung Ilmu menjadi salah satu tempat wisata pendidikan yang bisa memberikan banyak manfaat, sesuai dengan namanya

_0626.jpg

Sejarah Kampoeng Ilmu
Kampoeng Ilmu kita ketahui merupakan, sebuah kampung yang berbasis bertjuan  untuk jualan buku bekas di kota Surabaya. Dengan jumlah pedagang dan buku yang masih sedikit dan itupun hanya menjual majalah bekas, lalu pada tahun 1982 kedelapan stand generasi pertama harus pindah tempat ke area pasar Blauran karena pada saat itu dikejar-kejar aparat keamanan dengan alasan penertiban dan merusak keindahan kota Surabaya.
Kemudian pada tahun 1990 lahir generasi kedua yang terdiri dari pedagang buku yang mengambil posisi di lokasi sebelumnya.Generasi kedua ini mampu bertahan sampai pada tahun 1998, yang pada akhirnya juga pindah tempat dan bergabung dengan para pedagang buku lain di Pasar Blauran.
Pada tahun 1999 dimana Indonesia memasuki masa krisis moneter, di lokasi yang lama telah lahir generasi ketiga dan mampu bertahan hingga sekarang. Dengan demikian pada pedagang buku di kawasan ini bisa dibedakan menjadi 2 golongan yaitu para pedagang yang memiliki stand toko dan para pedagang yang berjualan kaki lima yang berjualan di pinggir jalan jl Semarang.
Di era generasi ketiga inilah lahir Serikat Pedagang Kaki Lima Bubutan Surabaya (SPKLB-Surabaya) yang merupakan paguyuban yang mewadahi para pedagang di kawasan tersebut.Serikat Pedagang Kaki Lima Bubutan Surabaya inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal lahirnya Kampoeng Ilmu.
Alasan kenapa tempat ini dinamakan Kampoeng Ilmu adalah karena para pedagang di tempat ini hanya menjual berbagai buku yang terdiri dari buku umum, buku baru, buku bekas, buku sekolah, majalah, dan komik.Karena buku merupakan guru dan sarana yang setia dalam memberikan ilmu dan pengetahuan maka kawasan ini dinamakan Kampoeng Ilmu, yaitu kampung yang penuh ilmu, penuh buku.
Kawasan ini identik dengan penjual buku bekas, padahal ada sebagian pedagang yang menjual buku umum ataupun buku sekolah yang merupakan keluaran terbaru.Bangunan yang ada di kawasan Kampoeng Ilmu merupakan hasil swadaya yang dilakukan oleh para penghuni Kampoeng Ilmoe yang ditambah dengan donasi dari pihak yang merasa peduli dengan eksistensi pedagang kaki lima buku bekas, seperti pembangunan taman, pendapa, pemerataan lahan untuk jualan, toilet, musholla dan kolam renang anak.
Tulisan di atas merupakan, Branding yang saya lakukan yang telah saya upload di Blog dan juga saya coba tulis dan kirimkan ke beberpa koran dan majalah. Semoga dalam waktu dekat bisa terbit di surya ataupun majalah majalah pendidikan surabaya ataupun kominfo. Optimis tembus karna sekarang sebentar lagi memasuki liburan.

MEDIA SOSIAL INSTAGRAM.
Untuk memperluas informasi mengenai kampung ilmu yang di terletak di Surabaya tepatnya di jl. Semarang no.55 kota Surabaya Jawa Timur kami menggunakan media sosial yaitu Intagram, karena sosial media Instagram kini banyak lagi banyaknya terlirik oleh kalangan masyarakat. Oleh karena itu Instagram salah menjadi salah satu progres untuk memperluas dan memperkenalkan pada masyarakat mengenai kampung ilmu ini. Nama kampung ilmu yang ada di surabaya pada sosial media Instagram hanya satu akun yaitu kami yang membuat, karena kurangnya masyarakat yang melirik apa sih kampung ilmu itu, maka dari itu tebentuknya pemikiran membuat akun sosial di Instagram
Peneliti membuat akun Instagram ini bernama @kampungilmu55 tanggal 11 desember 2016, kini pada Instagram kami pada 20 desember 2016 memiliki 13 posting foto, 61 follower dan 366 follow. 13 posting foto tersebut kami posting mengenai apa yang ada pada kampung ilmu tersebut, mulai dari orang berjualan buku, aktifitas asli penghuni kampung ilmu, kegiatan seni budaya, sementara hanya itu yang kami bisa memperluas informasi mengenai atau memperberi tau apa yang ada dalam kampung ilmu ini.
 Tujuan kami meposting foto mengenai orang berjualan buku tersebut karena pada dasarnya kampung ilmu ini memang berawal banyaknya para bedagang yang menjual buku-buku dengan harga relatif murah. Toko-toko buku pada kampung ilmu ini termasuk penjualan buku yang lengkap, segala buku disana hampir ada, mulai dari buku novel, majalah, komik, pendidikan mulai dari belajar membaca, buku menggambar, pendidikan sekolah, buku latihan UN Sekolah Dasar (SD), pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Buku latihan UN SMP, pendidikan Sekolah Menengah Atas, buku latihan UN SMA, tidak hanya itu buku pengerang terkenal pun juga ada, banyak buku yang di perjual belikan. Memposting kegiatan jual-beli buku bertujuan untuk meningkatkan sumber ekonomi warga kampung ilmu ini. Para pedagang buku belum pernah melakukan iklan melalui sosial media, maka dari itu memposting foto di Instagram mengenai jual beli ini merupakan salah satu wujud iklan sosial media guna mendongkrak kelancaran perdagangan kampung ilmu.

 Postingan selanjutnya mengenai aktifitas penghuni kampung ilmu,kampung ilmu ini memiliki tempat yang asri untuk di kunjungi, kampung ilmu ini dikelilingi banyak pohon yang membuat udaranya sejuk, banyak anak kecil yang sedang bermain dengan teman sebaya, di tempat kampung ilmu terdapat warung atau sebutan kerennya warkop (warung kopi) pada warkop tersebut banyak orang untuk makan maupun selain itu ada dibuat tempat nongkrong masyarakat dan tempat berkumpulnya organisasi untuk berdiskusi, salah satu bukti komentar dari@mielidilucky_surabaya sering melakukan nongkrong di kampung ilmu dan bergotong royang disana, bangunan dan spot view yang bagus ini pernah juga digunakan sesi hunting foto model foto tersebut, salah satu foto posting foto dari fotografer @Deddy_Hudanto melakukan sesi hunting foto dan menandai tempat kampung ilmu ini dengan @kampungilmu55,  kampung ilmu juga memberikan lahan yang cukup luas bertujuan agar para masyarakat berkunjung tidak resah atas memparkir kendaraannya dan tentunya ada yang menjaga tempat parkir tersebut. Warga kampung ilmu sangat ramah, hal ini membuat para pengunjung menjadi lebih nyaman dan santai untuk melakukan aktifitasnya.
Selanjutnya tujuan memposting kegiatan seni budaya yang ada pada kampung ilmu ini, tidak semua orang atau masyarakat surabaya mengetahui bahwa di kampung ilmu ini terdapat sanggar seni tari yaitu tarian Remo, sanggar ini memiliki rekor muri Indonesia mengenai melakukan tarian Remo peserta terbanyak sehingga mendapat pengahargaan tersebut.pendiri sanggar tari ini melakukan promosi melalui orang-orang sekitar istilah jawanya getok tular, Tujuan memposting kegiatan seni budaya ini di sosial instagram agar sanggar tari ini bisa lebih dikenal masyarakat Indonesia lebih luas terutama di Surabaya dan memperkenalkan serta memperluas mengenai sanggar tari ini . Selain itu bertujuan untuk melestarikan seni tari ini bahwa seni tai Remo ini masih berjalan dan tidak mempunah sperti tari-tarian lainnya,



Berdasarkan hasil publikasi melalui media di sosial media, baik itu Whatsapp, BBM, Line Facebook, Instagram, menunjukkan ketertarikan minat terhadap Seni tari Remo yang berasal dan sekarang  berada di Warung Kampung Ilmu surabaya yang beralamatkan di Jl. Semarang, Surabaya. Sejumlah pagelaran seni tari di masyarakat surabaya, awalnya tidak mengira bahwa ada pagelaran seni di Surabaya. Jalan Semarang menurut pandangan mereka yaitu tempat untuk mencari dan menjual buku-buku bekas/ buku-buku yang sudah tak terpakai lagi.

Publikasi Lewat Line, WA dan Facebook
IMG-20161220-WA0005.jpgIMG-20161220-WA0006.jpgAlhamdulillah ketika publikasi melalui media adanya peningkatan baik itu ketertarikan dan menambah minat mereka. Hal itu dibuktikan ketika mengirim broadcast di Whats App, banyak teman-teman antusias membalas pesan kami. Salah satunya Shela. “Mas, saya kok baru tahu ya di Jl. Semarang ada pagelaran seni ? Aku suka banget sama yang namanya seni. Aku pingin kesana”. Ujar shela. Selain Shela ada juga Riski Pradana, dia merukapakan anggota grup Fotografi UNAIR (Universitas Airlangga). “Mas hafid, pagealaran seninya itu gratis ya ? Aku pingin lihat pertunjukan seninya sekalian mau ambil objek foto disana. Seni tarinya show jam brapa yah mas ?” Ujar Riski Pradana. Sebenarnya masih banyak lagi yang respon di media sosialWhats App. Selain melalui media Sosial Whats App lagi yang dari  Facebook, yaitu Nuning Dwi Astuti, Ia mengomentari kiriman yang saya post di Facebook. “ Mas, Saya sudah ibu-ibu. Umur saya 35 tahun mas. Saya ingin sekali bisa menari. Karena hobi saya menari, tetapi malu untuk ikut latihan. Apa boleh saya umur segini ikut latihan mas?
Ibu Nuning, Rski Praadana, dan Shela merupakan salah satu contoh bahwa ketika kami broadsat pesan tersebut banyak yang respon baik itu laki-laki, perempuan, mahasiswa, ibu-ibu dan lainya mereka sangat antusias terhadap pagelaran seni yang berada di Jl. Semarang Surabaya. Dengan melalui media sosial, bentuk promosinya yaitu tertulis dan ditampilkan beupa  gambar-gambar mengenai kegiatan yang berlangsung di Warung Kampung Ilmu Surabaya
Yuk tunggu apalagi ?
Harapan kedepan dari  Prrocet Branding ini ?
Begitulah sekilas cara kami dalam membranding Waroeng kampung Ilmu. Meskipun banyak kekurangan, kami tidak akan menyerah dan akan terus melakukan  project Branding Waroeng kampung Ilmu ini. InsyaAllah selama 6 bulan kedepan akan tetap melakukan. Karna Waroeng kampung ilmu sangat kurang diperhatikan oleh pemerintah, kolam kolamn rusak, 1 bulan kemaren bantuan yang diberikan dalam bentuk tanaman juga rusak tidak terawat. Maka untuk itu seandainya bisa di publikasikan sampai kedengaran bu Risma, mungkin ada langkah baik yang dilakukan pihak pemko untuk memperbaii Waroeng kampung ilmu ini bukan hanya sekedar sebagai waroeng kampung ilmu saja tetapi juga sebagai waroeng kampung ilmu pendidikan  dan wisata seni   

Analisis Fenomena Peran Media Sosial dan Jurnalisme sipil/amatir mengungkapkan fakta, yang tidak bisa ditembus oleh media massa global ( Kasus Aleppo )



Analisis Fenomena  Peran Media Sosial  dan Jurnalisme sipil/amatir mengungkapkan fakta, yang tidak bisa ditembus oleh media massa global ( Kasus Aleppo )
  Disusun Untuk Memenuhi UAS Mata Kuliah Teori Komunikasi
Dosen Pembimbing:
Martha Nurfaidah, S.Sos., M.Med. Kom
Description: C:\Users\lenovo\Documents\photo.jpg

Disusun oleh:
Muhammad Isra Anwar          B96214101


PRODI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2016




A.    Latar Belakang
Medsos atau Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Seperti berita kasus Aleppo ini  Di tengah keputusasaan, warga Aleppo menyebar ucapan selamat tinggal lewat media sosial. Kelambanan global dalam membantu warga di Suriah, membuat penderitaan mereka yang terjepit di tengah konflik semakin menyedihkan, demikian Deutche Welle, Rabu (14/12/2016). Inilah situasi hari-hari terakhir di Aleppo, Suriah ketika pasukan pemerintah yang setia pada Presiden Suriah Basyar al Assad berhasil mengusir pemberontak keluar dari kawasan itu.
Di tempat penampungan bawah tanah dan rumah duka, para dokter memohon bantuan. Sementara, kediaman warga dibom tanpa henti, terutama di distrik-distrik yang tersisa di bawah kendali pemberontak di Aleppo. Warga pun mulai mem-posting ucapan selamat tinggal lewat media sosial dan dalam pesan-pesan yang beredar luas. Mereka seolah ingin memiliki kata akhir dalam perang tanpa ampun ini.
"Tidak ada tempat sekarang untuk pergi, ini adalah hari-hari terakhir," kata Abdulkafi Alhamdo, seorang guru bahasa Inggris yang mengkritik kekejaman pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Alhamdo berbagi pesan dan menceritakan situasi lewat media sosial video streaming Periscope. Ia menceritakan bagaimana pasukan pemerintah semakin mendekat."Di sini hujan, bunyi bom sedikit lebih tenang.
Pasukan pemerintah Assad mungkin 300 meter jaraknya. Tidak bisa kemana-mana. Ini adalah hari-hari terakhir. Saya berharap kami bisa berbicara lagi dengan kalian di Periscope. Saya pikir kami telah berbagi banyak momen tentang Aleppo.” Dengan menahan kepedihan, ia melanjutkan: " Saya tidak tahu harus bicara apa lagi… Saya harap Anda bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Aleppo. Untuk putri saya, untuk anak-anak lainnya juga," katanya dalam video penuh rasa emosional.
"Saya tak percaya lagi PBB, atau masyarakat internasional. Sepertinya mereka puas kami terbunuh,” lanjutnya. Kami menghadapi situasi paling sulit, pembantaian paling mengerikan dalam sejarah baru-baru ini. Rusia tak ingin kami keluar dari sini hidup-hidup, mereka ingin kami mati. Setali tiga uang dengan keinginan Assad.”
Peran Medsos Pandangan dunia atas konflik yang merebak di Suriah tak lepas dari media sosial seperti Youtube, Twitter, Periscope, Facebook, dan lainnya. Hal ini membuat konflik di Suriah menjadi salah satu perang yang paling didokumentasikan di dunia melalui video dan laporan amatir.
Sumber-sumber yang tersebar di media sosial berperan besar bagi aktivis HAM dalam mencatat segala hal tentang perang ini secara rinci dan menjadi amunisi untuk melobi untuk respon dunia. Dalam videonya, Abdulkafi Alhamdo melanjutkan kata-katanya dengan terbata-bata, "Kemarin-kemarin, ada banyak perayaan di bagian lain Aleppo, mereka merayakan jenazah kami. Oke, inilah hidup...."
"Tapi setidaknya kami tahu bahwa kami adalah orang-orang bebas. Kami ingin kebebasan, tak ada yang lain, hanya kebebasan. Tapi ini bukan kebebasan. Tak percaya bahwa kau bukan lagi orang bebas di negaramu sendiri. Dunia ini tak inginkan kebebasan. Ini bukan kebebasan." Ribuan warga di Aleppo yang sebelumnya dikuasai pemberontak telah makin terpojok ketika pasukan pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia menolak seruan gencatan senjata.
Kelompok hak asasi membuat "permohonan mendesak" agar semua pihak yang terlibat konflik melindungi penduduk sipil. Namun di sebuah pojok di Aleppo, dimana pasukan pemerintah makin mendekati hanya dalam jarak 300 meter, di tengah hujan yang turun, nampaknya Abdulkafi Alhamdo telah putus asa atas apa yang disebut ‚kelambanan global‘ dalam bertindak mengatasi situasi di Suriah, yang sudah di luar batas kemanusiaan. Abdulkafi Alhamdo menutup kata-katanya kepada kita semua, "Saya harap kalian mengingat kami. Terima kasih."Editor: Pascal S Bin Saju[1]
Nah dari urain pemberitaan di atas kemudian saya hubungkan dengan  pemikiran McLuhan “ Media adalah pesan” ( The Medium is the message). Melalui ungkapan itu, McLuhan ingin menyatakan bahwa pesan yang disampaikan media tidaklah lebih penting dari media atau saluran komunikasi yang digunakan pesan untuk sampai kepada penerimanya. Dengan kata lain, ia ingin menjelaskan bahwa media atau saluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruhnya kepada masyarakat dan bukan isi pesannya. Orang yang chatting di internet atau berkomunikasi melalui Facebookm bisa jadi tidak terlalu mementingkan isi pesan yang mereka terima atau isi pesan yang akan mereka tulis tetapi kenyataan, bahwa mereka menggunakan internet atau facebook itulah yang penting [2]

B.     Rumusan Masalah

1.      Seberapa pentingkah peran media sosial mengubah mengubah pola pikir masyarakat ?
2.      Bagaimana peran media sosial dalam mengkonstruksi pemberitaan kasus aleppo sehingga menjadi besar ?




































C.    Pembahasan

       I.            Teori Agenda Setting

Hubungan yang kuat antara berita yang disampaikan media dengan isu-isu yang disampaikan media dengan isu-isu yang dinilai penting oleh publik merupakan salah satu jenis efek media massa yang paling populer yang dinamakan dengan agenda setting. Istilah”agenda setting’ diciptakan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw ( 1972, 1993 ), dua peneliti dari Universitas North Carolina, untuk menjelaskan gejala atau fenomena kegiatan kampanye pemilihan umum ( pemilu ) yang telah diamati dan diteliti oleh kedua sarjana tersebut[3]. Penelitian oleh McCombs dan Shaw merupakan tonggak awal perkembangan teori agenda-setting.  E.M., Griffin ( 2003 ) menyatakan, bahwa McCombs dan Donald Shaw meminjam istilah “agenda-setting” dari sarjana ilmu politik Bernard Cohen ( 1963 ) melalui laporan penelitiannya mengenai fungsi khusus media massa[4] .

Para sarjana Komunikasi telah lama menyadari bahwa media massa memiliki kemampuan untuk mengembangkan berbagai isu bagi publik. Walter Lippman ( 1922 ), seorang komentator dan penulis kolom terkenal di AS, adalah orang pertama yang mengemukakan gagasan mengenai agenda-setting ini.[5] Menurut Lippmann, media bertanggung jawab membentuk presepsi publik terhadap dunia. Ia menegaskan bahwa gambaran realitas sebenarnya dan karenanya terkadang mengalami pembelokan atau distorsi

Gagasan Lippman ini kemudian dikemabngkan oleh Donald Shaw dan Maxwell Mc Combs, dengan pernyataan sebagai berikut :

“ Bukti bukti sudah menumpuk para editor media cetak dan para pengelola media penyiaran memainkan peran penting dalam membentuk realita sosial ketika melakukan pekerjaan untuk memilih dan membuat berita. Dampak dai media massa yaitu kemampuannya untuk mempengaruhi perubahan kognitif individu, untuk membentuk pemikiran mereka dinamakan dengan fungsi agenda-setting komunikasi massa. Disinilah letak efek paling penting komunikasi massa, yaitu kemampuan secara mental untuk menata dan mengorganisasi dunia untuk kita.’
Agenda setting terjadi karena media massa sebagai penjaga gawang ( goal keeperr ) harus selektif dalam menyampaikan berita[6]
Dalam hal agenda setting dapat dibagi ke dalam dua tingkatan ( level ) membangun isu umum yang dinilai penting, level kedua adalah menentukan bagian bagian  atau aspek-aspek dari isu umum tersebut yang dinilai penting. Level kedua adalah sama pentingnya dengan level pertama.  Level dua penting karena memberitahu kita mengenai bagaimana cara membingkai isu publik atau melakukan framing terhadap isu yang akan menjadi agenda media dan juga agenda publik.

    II.            Computer Mediated Communication dan Media Social

Kehadiran situs jejaring sosial telah menjadi sebuah media alternatif bagi individu dalam mengembangkan hubungan dengan siapa saja yang menaruh minat yang sama. Sebagaimana halnya hubungan interpersonal yang dibangun melalui komunikasi tatap muka atau face to face, hubungan yang dibangun melalui situs jejaring sosial juga bisa menjadi sebuah hubungan yang berawal dari tahap perkenalan basa basi hingga pengembangan hubungan yang lebih akrab di dunia maya bahkan ada beberapa yang diantaranya dirasionalisasikan dalam sebuah hubungan di dunia nyata termasuk di dalamnya proses depenetrasi.

Semua ini tergantung dari keinginan individu pengguna situs jejaring dalam mengembangkan hubungannya dan dipengaruhi juga oleh proses pengungkapan diri (self disclosure) kepada individu lain. Hubungan interpersonal remaja yang dilakukan melalui situs jejaring sosial ini tentunya memberikan pengaruh pada hubungan interpersonal remaja baik itu di dunia maya maupun di dunia nyata.  
 Penelitian Parse dan Dunn yang dikutip Saverin dan Tankard (2005) menjelaskan bahwa komputer dapat digunakan sebagai media lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Penggunaannya antara lain sebagai media pembelajaran untuk mengakses berbagai informasi dimana pun berada, hiburan, relaksasi, melupakan masalah, menghilangkan kesepian, mengisi waktu, sebagai kebiasaan, melakukan sesuatu dengan teman atau keluarga. Kecuali itu, komunikasi bermedia komputer dapat meningkatkan hubungan emosional serta kesan antarpribadi[7] fungsi media internet sebagai media baru dapat digolongkan dalam lima kategori kebutuhan Severin dan Tankard (2005: 357). Pertama, fungsi kognitif, memperoleh informasi, pengetahuan, dan pemahaman. Kedua, fungsi afektif, untuk memenuhi kebutuhan emosional, pengalaman menyenangkan, atau estetis. Ketiga, fungsi integratif personal – memperkuat kredibilitas, rasa percaya diri, stabilitas, dan status. Keempat, integratif sosial – memperkuat hubungan dengan keluarga, teman, dan lain-lain. Kelima, pelepasan ketegangan, yakni fungsi kebutuhan untuk mencari hiburan, relaksasi, menghilangkan kesepian, mengisi waktu luang, dan melupakan masalah rutinitas sehari – hari yang memenatkan pikiran.

 III.            Teori Marxisme, Hegemoni dan Studi Kultural [8]

Menurut Hall, media adalah instrumen kekuasaan kelompok elite, dan media berfungsi menyampaikan pemikiran kelompok yang mendominasi masyarakat, terlepas apakah pemikiran itu efektif atau tidak. Karl Marx yang berpandangan kapitalisme telah menciptakan kelompok elite berkuasa yang melakukan eksploitasi terhadap kelompok yang tidak berkuasa dan lemah. Kelompok yang lemah akan mengalami “ alienasi” yaitu kondisi psikologis di mana orang mulai merasa mereka memiliki kontrol terbatas terhadap masa depan mereka.

Marx berpandangan bahwa pesan yang disampaikan media massa sejak awal dibuat dan disampaikan kepada khalayak audiensi dengan satu tujuan, yaitu membela  kepentingan paham kapitalisme. Dalam pandangan Marxisme sistem ekonomi yang menjadi Infrastruktur sosial akan menentukan suprastruktur maka dalam pandangan studi kultural hubungan tersebut di percayai lebih kompleks.

“Hegemoni: Pengaruh Atas Massa
“ Hegemoni” merupakan salah satu konsep penting dalam teori studi kultural, dan sebagian besar teori ini bersandar pada pemahaman kita terhadap istilah “Hegemoni ini. Hegemoni dapat didefinisikan sebagai pengaruh, kekuasaan atau dominasi kelompok sosial tertentu atas kelompok lainnya yang biasanya lebih lemah.[9]
Pandangan Gramsci mengenai hegemoni berdasarkan pada gagasan Karl Marx mengenai “ kesadaran yang salah” yaitu keadaan dimana individu menjadi tidak menyadari adanya dominasi dalam kehidupan mereka.
Teori Studi Kultural
Sedangkan dalam teori studi Kultural menyatakan bahwa manusia merupakan bagian penting dari suatu hirarki sosial yang berkuasa. Setiap orang yang menjadi bagian dari hierarki struktur kekuasaan. Kekuasaan bekerja pada semua level kemanusiaan ( Grossberg, 1989 ) dan sekaligus membatasi keunikan identitas manusia ( Weedon, 2204 )[10]. Dalam hal ini, Hall tertarik pada kekuasaan yang dimiliki berbagai kelompok sosial dalam masyarakat.

Dekoding
Hegemoni dan Hegemoni tandingan tidak akan ada tanpa adanya kemampuan khalayak untuk menerima pesan dan membandingkan pesan tersebut dengan makna yang sebelumnya telah disimpan di dalam ingatan mereka. Proses ini disebut dekoding. Ketika kita menerima pesan dari pihak lain maka kita melakukan dekoding terhadap pesan itu brdasarkan presepsi, pemikiran dan pengalaman masa lalu.















D.    Analisis Fenomena dengan teori
Aleppo, Aleppo,Aleppo mungkin kita di dunia ini sudah mengetahui terutama bagi pengguna aktif Media Sosial tentang kasus Aleppo, Perang Saudara yang terjadi di Suriah ini membuat banyak warga Aleppo melayang. Bom, peluru, tank, pesawat, roket dan letusan senjata api terjadi dimana mana. Membayangkan aja sangat ngeri, apalagi apabila kita disana mungkin hanya bisa pasrah tawakalillah kepada Allah. Begitu pula dengan keadaan warga yang tinggal di Allepo ini. Hal ini sesuai dengan Teori Hegomoni dan Kapitalis yang di gagas oleh Karl Max mengenai Dominasi kelompok kelompok sosial tertentu yaitu dari pihak Rusia, PBB dan Amerika Serikat. Warga Aleppo seolah masyarakat miskin biasa yang tergantung kelompok kelompok tersebut. Mereka menjadi korban atas persaingan antara Amerika Serikat yang membela kaum pemberontak dan Rusia mendukung Pemerintah. Dominasi kelompok dan Hegemoni sangat terjadi di Aleppo ini.
Warga Aleppo Dengan bangunan yang hancuran, fasilitas fasilitas yang mulai banyak hilang membuat hidup mereka menggenaskan dan teroambang ambing, bisa jadi beberapa detik peluru peluru atau bom yang akan mengenai tubuh mereka, kapanpun itu bisa terjadi. Akan tetapi dengan kondisi terdesak seperti, bantuan yang seolah olah mereka harapkan terutama PBB tidak kunjung datang. Kemudian mereka memanfaatkan media sosial untuk menguatarakan siksaan batin yang mereka alami salah satunya lewat  media persiscope.
Kemudian dari Periscope menyebar ke Facebook mendapat banyak komentator, like masuk ke Youtube, dilihat banyak jutaan bahkan ratusan juta manusia di Youtube membuat warga berbondong menggubakan hastage #SaveAllepo baik di Bbm,Twitter,Path dll. Hal ini menunjukan peran media sangat besar dalam mengubah pola pikir manusia sekarang, sekarang kita semakin cerdas dan Critical dalam media. Hal ini sesuai dengan teori Agenda Setting yaitu ketika seseorang selektif dalam menyampaikan berita, memberitahu kita, bagaimana cara kita membingkai isu, melakukan framing terhadap isu, yang akan menjadi agenda media dan juga agenda publik.
Dari semua pemamparan di atas dapat kita simpulkan bahwa Peran Media Sosial dalam pengangkatan isu agar diketahui masyakarat secara luas itu sangat besar. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, tanggapanpun bermacam macam tidak peduli RAS, yang ada rasa ingin tahu tinggi masyarakat terhadap kasus kasus sosial yang ada. So peran Media Sosial lebih besar daripada TV yang jangkauannya menunggu pemberitaan information to Information, karna penyampaian masuk dekodingnya lebih cepat, aktual dan terpercaya.
E.     Daftar Pusataka

Di kutip dari situs internasional.kompas.com terbitan Rabu, 14-12-2016
Teori komunikasi individu hingga massa “Morrison” kencana Prenamedia group cetakan ke 2 maret 2014 Hal 493
Dennis McQuail, Mcquail’s Mass Communication theory , 4th  Edition, sage Publication, 2000, hlm.455. ( buku morrison 494)
Bernard C. Cohen, the Press and Foreign Policy, Princeton University, 1963. Hlm. 13. ( buku morrison495 )
Buku yang ditulis Walter Lippman berjudul Public Opinion ( 1922 ) ( buku morrison 495
Pamela J. Shoemaker, Media Gatekeeping, 1966 dalam Littlejohn dan Foss, theries of Human Communication, hln 293-295 ( buku moirrison hal 496 )
TotokWahyu A, Fandrian Sukmawan dan Dian Asha U, Media Sosial... 99 Dari perspektif uses and gratification, ( di kutip dari KTI  media sosial dan pengembangan remaja sidaorjo hal 5 )

Teori Komuniksi Individu hingga massa karya Morrison hal 535-549
Richard Wst dan Lynn H. Turner, Introducing communication Theory, McGraw Hill, 2007, Hl. 394 -395 ( morrison hal 541-542 )
L. Grossberg. Critical Studies in Mass Communication, 1989 hal 413-4200 ( morrison hal 547 )
Sumber Utama Teori Komunikasi Individu Hingga Mass, Morrisan, cetikan kedua 2 Maret 2014, Prenadamedi group


[1] Di kutip dari situs internasional.kompas.com terbitan Rabu, 14-12-2016
[2] Teori komunikasi individu hingga massa “Morrison” kencana Prenamedia group cetakan ke 2 maret 2014 Hal 493
[3] Dennis McQuail, Mcquail’s Mass Communication theory , 4th  Edition, sage Publication, 2000, hlm.455. ( buku morrison 494)
[4] Bernard C. Cohen, the Press and Foreign Policy, Princeton University, 1963. Hlm. 13. ( buku morrison495 )
[5] Buku yang ditulis Walter Lippman berjudul Public Opinion ( 1922 ) ( buku morrison 495
[6] Pamela J. Shoemaker, Media Gatekeeping, 1966 dalam Littlejohn dan Foss, theries of Human Communication, hln 293-295 ( buku moirrison hal 496 )
[7] TotokWahyu A, Fandrian Sukmawan dan Dian Asha U, Media Sosial... 99 Dari perspektif uses and gratification, ( di kutip dari KTI  media sosial dan pengembangan remaja sidaorjo hal 5 )

[8] Teori Komuniksi Individu hingga massa karya Morrison hal 535-549
[9] Richard Wst dan Lynn H. Turner, Introducing communication Theory, McGraw Hill, 2007, Hl. 394 -395 ( morrison hal 541-542 )
[10] L. Grossberg. Critical Studies in Mass Communication, 1989 hal 413-4200 ( morrison hal 547 )