Rabu, 28 Oktober 2015

ASAP BUKANLAH ANCAMAN TAPI TANTANGAN KITA SEMUA




Asap, sebenarnya di lihat dari kasat mata sepele tetapi apabila di biarkan maka bisa menjadi masalah besar. Hal itulah yang terjadi sekarang di dunia Indonesia, khususnya untuk yang tinggal di pulau sumatera dan kalimantan. Asap sekarang menjadi bencana besar, menjadi perbincanan hangat dimana mana baik dalam negeri maupun negeri seperti Malaysia,Singapura dan beberapa negara lainnya. Mereka pun sekarang juga merasakan dampaknya.       
Sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan berdampak besar pada kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak kabut asap. Dari catata Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana menginformasikan Dalam periode 1 Juli hingga 23 Oktober 2015, jumlah penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mencapai lebih 503.000 orang di enam provinsi terdampak asap.

Jumlah penderita di masing-masing provinsi adalah  80.263 jiwa di Riau, 129.229 jiwa di Jambi, 101.333 jiwa di Sumatera Selatan, 43.477 jiwa di Kalimantan Barat, 52.142 jiwa di Kalimantan Tengah dan 97.430 jiwa di Kalimantan Selatan. Sementara itu, lebih dari 43 juta jiwa penduduk terpapar oleh asap. Data ini hanya dihitung di Sumatera dan Kalimantan dan dianalisis dari peta sebaran asap dengan peta jumlah penduduk.

 Sedangkan dari catatan data di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan diketahui hingga Oktober ini penderita Ispa sudah mencapai angka 16 ribu orang. Angka ini naik 35 persen dari periode sebelumnya atau meningkat rata-rata 2 ribu penderita setiap bulannya.
Jumlah penderita Ispa tersebut dikhawatirkan terus melonjak mengingat kabut asap dikawasan Kalimantan Selatan sudah dalam tahap membahayakan. Penderita Ispa terbanyak di derita oleh warga yang tinggal di Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut dan Kota Banjarmasin.
Bahkan kalo kita dari ilmu kedoktoran bakteri dan virus penyebab Ispa diantaranya bakteri Stafilokokus serta virus influenza di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernapasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Gejala Ispa sendiri dikenali dengan flu, batuk, demam dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 derajat celsius dan disertai sesak napas.
Hal ini sangat membahayakan bagi anak anak balita karna sudah ada beberapa anak balita yang meninggal terkena dampak asap, yang terbaru balita berumur 1,5 tahun meninggal. Ini adalah tantangan bagi kita semua, bukan hanya tantangan bagi pemerintah tetapi kita juga. Apabila yang bergerak mengatasi masalah Cuma pemerintah percuma saja. Harus adanya kerjasamanya semua pihak baik yang menangani dan yang mencegah.  Bekerjanya pun jangan sendiri sendiri kita harus kompak, jangan saling menyalahkan. Masalah ancaman ini seharusnya membuat kita sadar apa yang kita perbuat ke bumi maka kita sendiri yang akan menanggung masalah ini juga.
Seperti yang dilakukan para mahasiswa dan masyarakat yang peduli dengan lingkungan turut tangan membantu permasalahan ini. Mahasiswa diberbagai daerah bahkan provensipun turun tangan dengan mengadakan bakti sosial, meminta sumbangan dana. Aksi aksi sosial pun terjadi seluruh Indonesia termasuk Surabaya, berbagai ikatan ikatan Mahasiswa dari Kalimantan mereka turun ke jalan melakukan aksi di Care Free Day. Pemerintah juga sudah terus berusaha membantu mengatasi masalah ini, sekarang tergantung kita saja, kalo bukan kita siapa lagi.
Asap sendiri bukan hal yang baru untuk dunia kita. Pada tahun tahun sebelumnya Indonesiapun juga mengalami kabut asap. Setelah musim panen biasanya para petani membakar ladangnya, yang di lakukan pun bukan sedikit tapi berhektar hektar. Di tambah pula dengan ada sebagian orang yang tidak bertanggung jawab membakar hutan membuat kondisi udara semakin lembab dan parah. Yang jadi pertanyaan apakah mereka sadar dampak yang akan mereka dapatkan seperti sekarang ?
Seharusnya pemerintah juga selesai masalah asap nanti harus belajar dari pengalaman ini jangan sampai kejadian ini kembali terulang untuk tahun depan. Pemerintah harus mengantisipasi dengan memberlakukan peraturan peraturan baru serta juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggalnyan dekat hutanataupun juga petani mengenai cara yang baik membersihkan tanaman yang tersisa setelah panen. Caranya tidak harus membakar tetapi dengan cara lain. Pemerintah harus juga memberikan trik trik kepada masyakat tentang bagaimana cara tebaik untuk memendamkan api yang membakar lahan atau hutan baik yang sedikit ataupun yang banyak. Lebih baik di cegah sebelum terlambat. Karna asap ini sudah mencoreng nama baik Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar