Senin, 30 September 2013

Biografi Sastrawan



Biografi Amir Hamzah - Sastrawan Indonesia

Nama: Amir Hamzah
Nama Lengkap: Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera

Tanggal Lahir: Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911
Wafat: Begumit, 20 Maret 1946
Angkatan     : Pujangga Baru
Karya terkenal     : Buah Rindu
Penghargaan     : Pahlawan Nasional, Pemerintah RI.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f7/Amir_hamzah_duke_of_langkat.jpgAmir Hamzah  adalah seorang sastrawan  Indonesia  angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu  (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu.

Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Pada masa ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.

Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru.

Kumpulan puisi karyanya yang lain:
Nyanyi Sunyi (1937),
Setanggi Timur (1939),
Bagawat Gita (1933),
Syirul Asyar .

Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.

Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Ia wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Hamzah

























5smsutardji_calzoum_bachri_Sutardji Calzoum Bachri
“Adakah yang lebih tobat dibanding airmata adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah yang lebih hakekat dibanding airmata adakah yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding airmata.” (Ayo, Sutardji Calzoum Bachri, 1998)
Itulah salah satu petikan karya dari pria berkelahiran 24 Juni 1943 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Iya benar,dia adalah Sutardji Calzoum Bachri. Sebenarnya beliau telah menulis cerpen(cerita pendek) dari awal mula kepengarangannya. Tetapi entah mengapa beliau lebih dikenal sebagai penyair. Padahal beliau sudah menulis cerpen cukup banyak,hanya saja beliau tidak memelihara cerpen-cerpen beliau. Cerpen-cerpen tersebut dibiarkan terbengkalai dan tidak dirawat. Tetapi atas kerja keras tim IndonesiaTera,yaitu Dorothea Rosa Herliany dan Amien Wangsitalaja yang hanya bias menemukan dan membukukan sembilan cerpen dari belasan cerpen yang pernah ditulis oleh Sutardji.
Sutardji Calzoum Bachri digelari ‘presiden penyair Indonesia’. Menurut para seniman di Riau, tempat kelahirannya, kemampuan Soetardji laksana rajawali di langit, paus di laut yang bergelombang, kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi.
Beliau juga sering mengirimkan sajak-sajak dan esainya ke media massa di Jakarta, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana,
majalah bulanan Horison, dan Budaya Jaya. Di samping itu, beliau juga rutin mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar lokal, seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Haluan di Padang.
Selain itu beliau juga mengikuti berbagai kegiatan seperti mengikuti International Poetry
Reading di Rotterdam, Belanda (1974), dan mengikuti International Writing
Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA (Oktober 1974—April 1975),
bersama Kiai Haji Mustofa Bisri dan Taufiq Ismail.
Hasil karya-karya yang telah dibuat beliau tidak tertandingi di dunia sastra. Antara lain karyanya adalah O ( Kumpulan Puisi, 1973), Amuk (Kumpulan Puisi, 1977), dan Kapak (Kumpulan Puisi, 1979). Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi, antara lain Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from The Word (USA), Westerly Review (Australia), Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975), Ik Wil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979), Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah
Tenggara, Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).Sementara itu, esainya berjudul Gerak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 dan Hujan Kelon dan Puisi 2002 mengantar kumpulan puisi “Bentara”.
Beliau pernah mengunjungi SMA IIBS ini, pakaiannya biasa, tetapi saat dia menyampaikan karyanya dengan menggunakan harmonika yang beliau tiupkan sembari membacakan puisinya, dapat membuat seluruh pengunjung hening dan kagum akan apa yang beliau lakukan di panggung.–

Tidak ada komentar:

Posting Komentar