MIMPI ANAK PINGGIRAN
SIAPA
menyangka di Kota Banjarmasin masih ada kondisi sekolah yang cukup
memprihatinkan. Duaharus belajar di satu ruangan dan hanya dipisah dinding
triplek saat belajar. Gurunya pun terpaksa bergantian berteriak agar siswanya
tak terganggu saat menyampaikan pelajar. Begitulah suasana proses belajar
mengajar di SDN Basirih 10 di Simpang Jelai, Basirih, Banjarmasin Selatan.
Bukan hanya ruang sekolah yang
sangat minim, hanya tiga buah buat siswa kelas I sampai kelas VI, muridnya yang
sebagian anak petani maupun gurunya harus menggunakan kelotok atau jukung
sewaktu maupun ke sekolah menyusuri Sungai
Jelai selama 45 menit. Bila air surut, sekolah pun diliburkan karena
kelotok yang mengantar guru ke sekolah, jukungnya kandas da tidak bisa masuk.
Alternatif lewat darat tidak bisa
dilintasi dengan menggunakan sepeda motor dan tak adanya jembatan
penyeberangan.
Bisa dibayangkan di Kota
Banjarmasin yang dikenal sebagai kota Metropolitan dan ibukota Kalsel masih ada
sekolah yang kondisinya cukup memprihatinkan. Bagaimana dengan sekolah yang
berada di ujung pulau seperti di daerah kepulauan Kotabaru atau di Pegunungan
Meratus yang sulit dijangkau alat transportasi darat maupun laut.
Pemerintah, terutaman Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota di Kalsel harus memperhatikan dunia pendidikan,
terutama di daerah terpencil tak hanya di perkotaan saja. Itu sesuai dengan
amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1) yang berbunyi : “Setiap warga
negara berhak mendapat pendidikan. Menutut ilmu itu dalam Islam hukumnya wajib.Nabi
Saw pernah bersabda Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan
muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)
Bukan
hanya amanat UUD, anak-anak pinggiran tersebut pasti memiliki ‘mimpi’
bersekolah setinggi-tingginya. Indikasinya, mereka rela mengarungi sungai dan
gunung agar bisa belajar dan belajar demi mencapai cita-citanya sekaligus
merubah nasib.
Dilain
pihak, pelajar di dalam kota yang diberi kemudahan dalam akses belajar
sebaliknya menyia-nyiaka kesempatan dengan berbuat negatif seperti mabuk-mabukan, narkoba dan mejeng di mall-mall tanpa arah
yang jelas.
Sebagai
generasi muda, tugasnya hanya belajar, kreatif dan inovatif serta ditunjang iman yang kuatlah yang
nantinya sebaga benteng kuat kita untuk melawan budaya barat. Pendidikan
merupakan sebuah landasan yang kuat yang mana dari pendidikan ini akan muncul
sebuah pemimpin yang mana nantinya akan sebagai tonggak kemajuan negara ini. Itulah mimpi anak bangsa dan selaku
generasi muda.
Mimpi
lainnya, tak ada lagi anak-anak pinggiran yang terpinggirkan dan tak sekolah.
Melimpah ruah sumber daya alam di Kalsel dimanfaatkan sebaik-baiknya buat dunia
pendidikan. Perusahaan pertambangan tak hanya mengeruk batubara, juga
memberikan beasiswa bagi anak kurang mampu di Bumi Lambung Mangkurat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar