Senin, 30 September 2013

MIMPI ANAK PINGGIRAN



MIMPI ANAK PINGGIRAN

SIAPA menyangka di Kota Banjarmasin masih ada kondisi sekolah yang cukup memprihatinkan. Duaharus belajar di satu ruangan dan hanya dipisah dinding triplek saat belajar. Gurunya pun terpaksa bergantian berteriak agar siswanya tak terganggu saat menyampaikan pelajar. Begitulah suasana proses belajar mengajar di SDN Basirih 10 di Simpang Jelai, Basirih, Banjarmasin Selatan.
Bukan hanya ruang sekolah yang sangat minim, hanya tiga buah buat siswa kelas I sampai kelas VI, muridnya yang sebagian anak petani maupun gurunya harus menggunakan kelotok atau jukung sewaktu maupun ke sekolah menyusuri Sungai  Jelai selama 45 menit. Bila air surut, sekolah pun diliburkan karena kelotok yang mengantar guru ke sekolah, jukungnya kandas da tidak bisa masuk. Alternatif  lewat darat tidak bisa dilintasi dengan menggunakan sepeda motor dan tak adanya jembatan penyeberangan.
Bisa dibayangkan di Kota Banjarmasin yang dikenal sebagai kota Metropolitan dan ibukota Kalsel masih ada sekolah yang kondisinya cukup memprihatinkan. Bagaimana dengan sekolah yang berada di ujung pulau seperti di daerah kepulauan Kotabaru atau di Pegunungan Meratus yang sulit dijangkau alat transportasi darat maupun laut. 
Pemerintah, terutaman Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota di Kalsel harus memperhatikan dunia pendidikan, terutama di daerah terpencil tak hanya di perkotaan saja. Itu sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1) yang berbunyi : “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Menutut ilmu itu dalam Islam hukumnya wajib.Nabi Saw pernah bersabda Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)
Bukan hanya amanat UUD, anak-anak pinggiran tersebut pasti memiliki ‘mimpi’ bersekolah setinggi-tingginya. Indikasinya, mereka rela mengarungi sungai dan gunung agar bisa belajar dan belajar demi mencapai cita-citanya sekaligus merubah nasib.
Dilain pihak, pelajar di dalam kota yang diberi kemudahan dalam akses belajar sebaliknya menyia-nyiaka kesempatan dengan berbuat negatif seperti mabuk-mabukan,  narkoba dan mejeng di mall-mall tanpa arah yang jelas.
Sebagai generasi muda, tugasnya hanya belajar, kreatif dan inovatif  serta ditunjang iman yang kuatlah yang nantinya sebaga benteng kuat kita untuk melawan budaya barat. Pendidikan merupakan sebuah landasan yang kuat yang mana dari pendidikan ini akan muncul sebuah pemimpin yang mana nantinya akan sebagai tonggak kemajuan negara ini. Itulah mimpi anak bangsa dan selaku generasi muda.
Mimpi lainnya, tak ada lagi anak-anak pinggiran yang terpinggirkan dan tak sekolah. Melimpah ruah sumber daya alam di Kalsel dimanfaatkan sebaik-baiknya buat dunia pendidikan. Perusahaan pertambangan tak hanya mengeruk batubara, juga memberikan beasiswa bagi anak kurang mampu di Bumi Lambung Mangkurat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar